Soeharto dan Budaya Kultus Individu

Penulis : Hasan B elfatih (Guru MA Uswatun Hasanah)

 Senyum Pak Harto, membuat bangsa ini mengkultuskannya

Kematian mantan penguasa Orde Baru, Soeharto beberapa waktu lalu (27/1) meninggalkan fenomena tersendiri. Dimana budaya kultus individu masih kuat dalam masyarakat kita, baik itu yang pro maupun yang kontra Soeharto. Bagi yang pro, sosok Soeharto seolah sosok yang tiada duanya. Jasa-jasanya dalam membangun negeri ini di masa Orde Baru seakan jasanya seorang diri. Bahkan bagi penganut faham Tahayulisme, Soeharto memiliki kesaktian dan ilmu klenik. Antusiasme masyarakat bisa dilihat saat pemakaman mantan Presiden RI ke 2 ini. Iring-iringan jenazahnya yang menuju Astana Giribangun dielu-elukan dan ditangisi masyarakat yang berjejer di pinggir jalan. Begitupun yang kontra, dosa-dosa Soeharto, khususnya dalam pelanggaran HAM dan kasus KKN merupakan kesalahan dia sendiri.

Hal yang dilupakan oleh pemerhati Sosial politik dan masyarakat kita adalah apa dan bagaimana Soeharto bisa tiba-tiba muncul?. Apa dan bagaimana mesin sosial politik yang “memproduksi” Soeharto ?. Padahal kala itu Jendral A.H Nasution, Jend.A.Yani, Letjend.DI.Pandjaitan dan pahlawan revolusi lainnya disamping Presiden Soekarno yang tengah manggung.

Mesin CSIS yang mendapat sokongan dari CIA (Badan Intelejen USA) tidak pernah disebut-sebut, padahal mesin inilah yang “memproduksi” Soeharto. Dimana USA saat itu merasa gerah dengan sikap politik pemerintah Soekarno yang lebih pro Blok Timur (Uni Soviet, RRC atau Komunis) dan anti Barat, anti Kapitalisme. Maka “diproduksilah” Soeharto.

Begitupula kejatuhan kekuasaan Soeharto (21/5/98) tidak lepas dari peranan USA. USA melalui tangan IMF-nya yang menggoyang kekuasaan Soeharto. Dimana kala itu diakhir masa kekuasaannya Soeharto lebih dekat kepada kelompok Islam, sehingga Kabinet Pembangunan kala itu lebih dikenal dengan sebutan Kabinet Ijo Royo-royo. Hal ini ditandai dengan naiknya BJ.Habibie sebagai representatif kelompok Islam (ICMI) menjadi orang nomor 2/Wapres RI dan tersingkirnya LB.Moerdani dari kubu misionaris dari panggung politik Orde Baru. Inilah salah satu penyebab yang tidak disukai USA, yang mengakibatkan jatuhnya kekuasaan Soeharto.

Sosok Soekarno

Begitupula dengan mantan Presiden RI pertama. Walaupun prosesi pemakamannya tidak semeriah Soeharto, namun usaha untuk membangkitkan figur Soekarno terus dilakukan oleh pengagum dan pengikutnya dengan dimunculkannya kultus Megawati, putri Soekarno. Di masa jayanya Soekarno disebut-sebut sebagai pahlawan Kemerdekaan dan Pemimpin Besar Revolusi. Karena dukungan yang begitu kuat dari rakyat, sosok Soekarno berubah menjadi “diktator” dengan dikeluarkannya Dektrit Presiden (membubarkan DPR/Konstituante) dan mengambil alih kekuasaan di tangannya sendiri dengan dalih demokrasi terpimpin.

Padahal Soekarno adalah salah satu tokoh yang takut Proklamasi Kemerdekaan dicetuskan, dengan dalih pengaruh Penjajah Jepang masih kuat. Kalaulah Soebarjo dan Sukarti, pemuda Marhaen tidak “menculik” Soekarno ke Rengasdengklok, maka kemerdekaan RI tidak akan pernah terwujud. Begitupun pasca kemerdekaan, tatkala Kemerdekaan RI terancam Agresi Belanda. Sehingga secara de jure dan de facto wilayah kekuasaan RI hanya Jogja saja. Soekarno hanya bisa tunduk dan patuh kepada keputusan KMB dan Renvile, yang jelas-jelas merugikan fihak RI dengan melakukan”longmarch” pindah ke Jogja. Kalaulah tidak ada peranan Syafrudin Prawiranegara yang mendirikan PDRI (Pemerintah Darurat RI) di Bukittinggi Sumatera Barat tentu riwayat RI sudah tamat hingga kini.

Sosok di masa Reformasi

Kejatuhan sosok Soekarno diikuti dengan kejatuhan kekuasaan Orde Lama dan perangkat sistemnya, begitupun Soeharto diikuti pula dengan ambruknya sistem Orde Baru. Semestinya lengsernya pejabat publik (khususnya Presiden) tidak merusak atau membongkar tatanan sistem yang telah dibangun. Namun karena sistem yang dibangun bukan sistem kolekrtif, tapi sitem individualistis, maka begitulah nasibnya.

Di masa reformasi ini, ternyata bangsa ini tidak pernah belajar dari sejarah masa lalu. Pemunculan tokoh-tokoh yang berbau kultus individu justru ditumbuh suburkan Peranan media massa tentunya yang paling besar dalam hal ini. Unjuk popularitas melalui audisi-audisi, pilpres, pilgub dan pilkada adalah salah satu contohnya. Tokoh-tokoh fenomenal semacam Megawati, Gus Dur, amien Rais dan SBY bermunculan. Diantara tokoh-tokoh tersebut yang paling “menenggelamkan” rasionalitas bangsa ini adalah tokoh Gus Dur.. Dia disebut-sebut sebagai wali oleh kaum Nahdliyin, walaupun kebijakannya banyak yang kontroversi semasa menjabat presiden, namun pembelaan terhadapnya begitu besar, sampai terbentuk PBM (Pasukan Berani Mati) bela Gus Dur.

Pada akhirnya, setiap sosok yang dipuja-dipuji berlebihan, maka ia akan berpotensi menjadi diktator yang otoriter. Maka hindarilah mengkultuskan seseorang, karena manusia tidak lepas dari “kullu banii adamu khoto’un”, tidak ada manusia yang sempurna di jagat ini.

Kultus Individu dalam Islam

Islam amat menentang sikap kultus individu. Bahkan sikap ini disebut sebagai perbuatan orang Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana firman Alloh, “Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahib (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka disuruh menyembah tuhan yang maha esa, tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan (Qs Attaubah (9) : 31).

Pembelaan para sahabat Nabi Saw, seperti Mush’ab Bin Umair yang menjadikannya sebagai tameng hidup dalam perang Uhud terhadap pribadi Nabi Saw, bukan kultus Muhammad bin Abdullah, tapi sebagai wujud pembelaan terhadap ajaran Islam, dimana Nabi Muhammad-lah sebagai fungsionaris ajaran Islam saat itu. “Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”(Qs 18 : 110, 41: 6).

Umat tidak dibuat larut sedemikian rupa dengan berita wafatnya Nabi Saw, bahkan seorang Umar Bin Khotob yang meratap berlebihan ditegur oleh Abu Bakar Shidiq dengan firman Allah, “ Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kamu berbalik kembali ke belakang (murtad)?” (Qs 3:144).

Wafatnya seorang imam/pemimpin Islam, sebagaimana halnya Rasul Saw, tidak lantas berhenti misi kerisalahan yang telah dirintisnya. Dimana sebelum pemakaman jenazah Nabi Saw, terlebih dahulu diadakan musyawarah untuk mengangkat seorang Khalifah pengganti Rasul yang akan melanjutkan misi kerisalahan. Inilah yang lebih penting daripada meratapi kepergian seorang pemimpin. Dan inilah yang membedakan antara sistem islam dengan sistem non islam. “Sesungguhnya Dien (sistem, ajaran, ideologi) yang diridloi Alloh adalah Al-Islam” (Qs 3:19)